Senin, 20 Maret 2017

SATIRE
Satire adalah puisi yang memuat sindiran kepada orang lain seperti penguasa/ orang yang memiliki posisi atau jabatan. Satire berasal dari bahasa latin Satura yang berarti Sindiran, kecaman tajam terhadapsuatu fenomena, tidak puas hati suatu golongan, biasanya golongan lemah atau kecil kepada kepada golongan kuat yang berkuasa. Disini saya akan memberikan Contoh Satire yang coba saya buatg sendiri untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Puisi.

"Kicauan Para Penjilat"
Karya: Nia Riski



Lihatlah!...
Negeri ini hidup tapi terasa mati
Sering disebut tanah syurga,
Tapi mana buktinya?
Mana?
Hanya kicauan manis yang terlontar dari mulut-mulut para penjilat!
Sering disebut Negara yang kaya
Tapi, apa kalian tau kaya akan apa???
Kaya akan para pejuang
Ya! Pejuang!
Tapi pejuang untuk dirinya sendiri
Setiap ucapakan yang terdengar
Semua hanya berisi janji tanpa bukti!! 



Terimakasih sudah membaca blog saya, semoga ini bisa bermanfaat. Mohon maaf jika masih terdapat kekurangan dalam penulisan Puisi Satire diatas, dan saya mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman semua yang besedia meluangkan waktunya membaca blog saya. 

 

Sabtu, 18 Maret 2017

Batasan Tanpa Tiang_NiaRiski



 "Batasan Tanpa Tiang"

 Goresan pena pertama  Nia Riski

Dunia yang awalnya terang menjadi kelam

Tak tau perbedaan siang dan malam

Seperti itulah dunia sekarang

Yang tak tau dengan batasan-batasan tanpa tiang

Bukan tidak tau,

Tapi tak perduli

Karena termakan egoisnya diri

Punya pengetahuan

Tapi seolah tak punya tujuan

Punya iman

Tapi berlaku seolah tak punya tuhan

Sendiri Ku Jalani_NiaRiski

"Sendiri Ku Jalani"

 Goresan Pena Nia Riski


Ditengah malam yang begitu kelam

Aku terdiam di kamar tidurku

Ku tutup mata dan telingaku

Aku tak ingin melihat apalagi mndengar

Mendengar lontaran kata yang membuat jiwaku terpuruk

Lontaran kata yang membuat hatiku serasa ditusuk

Saat ku coba melangkah keluar

Ku lihat kertas putih itu sudah melayang

“Ibu, Ayah kalian kejam”

“Kalian egois”

“Kalian tidak menyayangiku”

“Kalian tidak memperduikanku”

Tak sanggup ku terima

Tak sanggup ku menahan

Hatiku serasa tertusuk beribu jarum

Sendiri…

Sendiri ku mencoba meraba mencari jalan

Jalan yang sangat redup tanpa lentera

Ku terus coba menyusuri perlahan

Mencoba terima kenyataan ini

Karena semua kuasa ilahi